Search

Memuat...

Jumat, 08 April 2011

Geliat malam di Lhokseumawe NAD

FENOMENA Pekerja Seks Komersial (PSK) memang bukan hal baru lagi di Lhokseumawe. Tapi, siapa sangka di kala pemerintah sedang berupaya menerapkan syariat Islam secara kaffah di Aceh, para PSK dari luar (impor) pun mulai marak di Lhokseumawe. Bahkan kini puluhan anak baru gedek (ABG) telah menjadi pengikut jejak ‘kupu-kupu malam’ untuk memenuhi ‘kuota’ impor itu. Kondisi ini tentunya sangat berpotensi menular dan meningkatnya kasus HIV/AIDS di Lhokseumawe.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pada triwulan kedua 2010 terdapat penambahan 1.206 kasus AIDS. Sampai 30 Juni 2010, kasus AIDS yang dilaporkan sejak 1978 berjumlah 21.770 kasus. Itu berasal dari 32 provinsi serta 300 kabupaten dan kota di tanah air. Kasus terbanyak dilaporkan terjadi di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Papua, Bali, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Barat.

Informasi yang beredar, PSK yang kini kian marak menjual jasa pelayanan seks di Lhokseumawe, di antaranya ada yang berasal provinsi yang kasus HIV/AIDS tertinggi di Indonesia, yakni Bali dan Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Mereka sudah lama beroperasi di Lhokseumawe melalui mucikari. Persoalan ini sebenarnya bukan hal baru lagi, tapi sudah menjadi rahasia umum. Namun, entah bagaimana, hingga kini pemerintah terkesan tidak bertindak untuk mengatasi persoalan ini.

Kondisi ini sangat berpotensi menyebar virus mematikan itu di Lhokseumawe. Sebab, berpeluang tertularnya si istri dari suami yang sering berhubungan seks bebas dengan perempuan yang terinfeksi HIV/AIDS. Karena tentu saja seorang pekerja seks komersial menjual jasa seks itu lebih dari satu orang, sehingga akan mempermudah peluang terjadinya penyebaran penyakit human immunodeficiency virus/acquired immuno-deficiency syndrome (HIV/AIDS).

Memang hingga kini kasus AIDS di Lhokseumawe yang terdeteksi hanya tiga kasus, tapi pihak Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Lhokseumawe meyakini kasus tersebut telah meningkat.

Terungkap maraknya PSK yang didominasi ABG Lhokseumawe di Kota Petro Dolar itu berawal setelah Kontras mendapat informasi adanya penangkapan seorang remaja. Remaja itu mengaku selama ini bergabung dengan party (rombongan) PSK menjajakan diri di tempat-tempat tertentu dan juga melalui mucikari. Kontras mencoba menelusuri informasi tersebut ke Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Willayatul Hisbah (WH) Lhokseumawe.

Di kantor Satpol PP kontras mendapatkan seorang remaja yang masih di bawah umur. “Semalam ada penangkapan remaja berkeliaran. Sekarang di dalam diamankan sementara untuk pembinaan,” kata seorang anggota Satpol PP sambil menunjuk ruang remaja itu. Dalam ruangan itu, seorang remaja dengan menggunakan kain sarung menutup tubuhnya, sedang diwawancarai wartawan lain. Dalam wawancaranya itu, remaja tersebut secara blak-blakan membeberkan perihal yang dialaminya selama ini.

ABG itu, sebut saja namanya Bunga, merupakan warga Kota Lhokseumawe. Dikatakan, awalnya dia lari dari rumah sekitar tahun 2009 lalu, kemudian menjadi pelayan di salah satu kafe di Lhokseumawe. Suatu malam dirinya bersama temannya pergi ke kawasan taman Riyadhah. Tiba tiba seorang pria berbadan tegap menggunakan mobil Avanza warna hitam menghampirinya seraya mengajak makan. Namun, karena tidak mengenal, remaja itu menolaknya dengan lembut. Tapi lelaki itu terus membujuknya, sehingga Bunga pun tak dapat menolak lagi rayuan pria itu.

“Saya bukan diajak ke tempat makan, tapi saya dibawa ke kawasan jalan line pipa,” cerita gadis tersebut. Sesampai di jalan line pipa, kata Bunga, lelaki itu langsung mengajaknya masuk ke semak-semak. Ketika itu, remaja itu tak berani menolaknya, bahkan sampai pria itu menindihnya. “Saya dipaksa melayani pria itu, usaha berontak sia-sia. Ketika itu umur saya masih 16 tahun” ungkap remaja itu. Usai diperkosa, kemudian pria itu membawanya pulang ke taman Riyadhah. Lalu, pria itu pergi dengan mobilnya dan menghilang dari pandangan Bunga. “Saya tak diberikan apa-apa, saya diperkosa lelaki berbaju aparat itu,” ungkapnya dengan nada serius.

Ketika itu, Bunga mengaku tak berani pulang lagi ke rumahnya. Ia menumpang berbulan-bulan di salah satu kafe dalam Kecamatan Banda Sakti Lhokseumawe dengan menjadi pelayan. Tak lama setelah kejadian tersebut, Bunga yang sudah beranjak umur 17 tahun mulai mengenal Lingkungannya. Dirinya pun mulai menjalin kasih dengan pria asal Medan, yang tinggal di kawasan Nisam, Aceh Utara. “Saya memang suka dengan pria itu, dan kami pacaran,” katanya. Bahkan, kata bunga, karena saling suka, ia sempat berhubungan badan dengan pria itu sampai tiga kali di kawasan Nisam. “Dia mengajak saya ke kawasan Nisam, dari situlah awal dia minta dilayani,” katanya.

Namun, tak lama menjalin hubungan kasih dengan remaja tamatan SD itu, pria yang sudah meniduri Bunga pulang lagi ke Medan meninggalkan Bunga di Lhokseumawe. “Entah karena dia takut saya hamil, dia pulang ke Medan, tapi saya tak hamil. Nomor kontaknya pun tak aktif lagi,” kata Bunga polos.

Puluhan ABG Jadi PSK
Dalam wawancaranya kepada Kontras, Bunga membeberkan, bahwa puluhan ABG Lhokseumawe kini menjadi ‘kupu-kupu malam’ di kafe-kafe emang. Bahkan, kini PSK di Lhokseumawe bukan hanya lokal saja. Banyak di antaranya berasal dari Bali dan Medan. Langganannya juga bukan hanya dari kalangan pemuda, juga dari kalangan berduit om-om yang terbiasa berkencan menikmati jajan di luar.

“Tarifnya untuk mereka sekitar Rp 250 ribu, tapi ada juga sampai jutaan,” beber Bunga, karena ada germo yang menentukannya harganya. Jadi setiap pria hidung belang ingin membawa PSK itu, harus melalui germo dulu.

Sebagian lain memang berkeliaran di tempat-tempat tertentu tanpa perantara mucikari. Party tersebut biasa menunggu di kawasan pingggir pantai kawasan Kecamatan Banda Sakti dan di kafe tertentu, yang sudah menjadi rahasia umum bagi peminatnya. “Tapi kebanyakan dari mereka tidak lagi bersekolah,” ungkap remaja itu.

Keberadaan mereka juga diback-up yang disebut-sebut oleh oknum aparat terkait, sehingga semakin bebas beroperasi. Sehingga tidak heran jika malam tertentu kafe itu penuh deretan mobil pengunjungnya. “Saya pernah ke kafe itu, karena saya bergaul dengan mereka. Di sana saya baru tahu mereka ada yang berasal dari luar,” ujar Bunga. Kafe tersebut juga menyediakan kamar khusus bagi mereka yang ingin mendapat layanan esek-esek. Para langganan di kafe itu umumnya menggunakan mobil mewah.

Sekilas jika diperhatikan, kata Bunga, kondisi kafe tersebut sama sekali tidak mencurigakan, karena juga menjual makanan dan beraneka minuman. Ternyata kafe yang dekat dengan bibir pantai itu juga menyediakan sajian plus bagi pelanggannya.

Sedangkan bagi PSK yang menjajakan diri biasanya melayani langganannya di kawasan yang sulit dijamah orang pada malam hari. “Jika diperhatikan seperti orang pacaran, kemudian mencari tempat ke lokasi yang dianggap aman. Setelah itu mereka diantar lagi ke rumah,” sebut bunga.

Bunga juga membeberkan, dari jumlah PSK yang dia kenal, kebanyakan masih berumur sekitar 18-23 tahun. Mereka itu kebanyak hanya tamat pendidikan SD atau SMP, dan hanya sedikit yang menuntaskan hingga ke bangku SMA. “Saya sering diajak keluar Medan, namun saya tak berani, meski sebelumnya saya juga berbuat hal itu,” katanya.

Ketika disinggung apakah menyesal dengan perilaku semacam itu, anak ketiga dari enam bersaudara ini mengaku sangat menyesal, dan ingin kembali kepada keluarganya. Dia mengaku lari dari rumah karena terpengaruh pergaulan. “Saya dulu tak betah di rumah, karena sering dipukul ayah, tapi kalau ayah tiri kini baik, bahkan sering memberi uang jajan,” katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar